Hari Baru Kami, Selamat Datang Anakku!

Akhirnya aku memiliki keberanian untuk mengingat kembali momen-momen ketika aku melahirkan Sophia Khaliluna Ikrami, anak pertamaku. Bukan karena trauma, tapi aku lebih ingin mengingat hal-hal lain yang jauh dari rasa sakit induksi malam itu. Ini adalah persalinan pertama yang akan selalu menjadi momen bersejarah bagi semua Ibu – dan aku rasa, ini merupakan salah satu milestone terbesar hidupku.

Kamis, 1 September 2016

Hari ini adalah jadwal kontrol mingguan bayi pertama kami. Memasuki minggu ke 37, Dokter menyarankan untuk melakukan rekam jantung (CTG) dan cek bukaan dalam. Dibantu oleh 2 suster di bagian poliklinik Rumah Sakit Ibu dan Anak Asih, Panglima Polim, CTG dilakukan selama 30 menit dan cek bukaan dalam hanya dilakukan sekitar 5 menit. Hasil dari CTG diserahkan langsung ke dokter, sedangkan hasil cek bukaan dalam ternyata masih bukaan 1. Not going to happen anytime soon, I guess.

10 menit kemudian, namaku dipanggil oleh suster untuk bertemu Dokter – Dr. Musa Soebiantoro, SPOG – salah satu dokter populer Asih, karena dikenal cukup senior di sini. Membaca hasil CTG bayiku, beliau mengatakan bahwa hasilnya tidak buruk, namun juga bukan dalam kondisi terbaiknya. Detak jantung bayi normal seharusnya berada di dalam rentang 120-160, dan dianggap sempurna apabila berada diantara 130-140. Rekam jantung anakku menunjukan angka rata-rata 120-130 (batas bawah). Karena cenderung melemah, Dokter mengizinkanku pulang, namun harus kembali lagi dalam 2 hari. Apabila detak jantung anakku masih di range yang sama, maka kami diminta untuk segera “melahirkan” bayiku. Ia menyarankan aku untuk banyak berjalan kaki dan berhubungan intim dengan suami untuk memicu kontraksi alami.

Jumat, 2 September 2016

Last day of working day. Mau tak mau aku harus ke kantor untuk mengajukan maternity leave, sekaligus handover kerjaan kepada bosku. Beruntung cuti dadakanku langsung diapprove, meskipun aku masih berfikir bahwa bayiku baru akan lahir dalam 1 atau 2 minggu lagi – sehingga aku punya cukup waktu untuk rileks di rumah.

Sabtu, 3 September 2016

Pagi itu aku menyiapkan segala kebutuhan yang aku perlukan untuk menyambut hari persalinan. Very exciting, it is! Aku menyiapkan sebuah koper kecil untukku, bayi kami, dan keperluan menginap suamiku selama di Rumah Sakit.

img_0269.jpg

10:00 WIB

Tiba di RSIA Asih, antrian pasien poliklinik nggak sepadat biasanya. Tumben nih. Suster kembali memanggil namaku untuk CTG dan cek bukaan dalam. Hasilnya ternyata masih sama, dan kontraksipun sudah mulai ada walaupun masih sangat kecil. Dr. Musa akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan induksi hari ini dan melakukan proses persalinan secepatnya. Hasil USG baik, kepala anak sudah ada di panggul, dan berat bayi sudah cukup – jadi apabila tidak ada halangan kita akan melakukan proses persalinan normal. Fyuh!

12:00 WIB

Induksi pertama yang diberikan dokter berupa induksi oral. Induksinya berbentuk 1 pil bulat yang dibagi 4, diletakkan dibawah lidah dan dikontrol reaksinya setiap 3 jam sekali. Dokter menyuruhku berjalan-jalan disekitar rumah sakit, dan apabila ada kontraksi kencang, aku dianjurkan langsung kembali ke Rumah Sakit. Aku & suami memutuskan untuk jalan-jalan di Gadaria City. Selama perjalanan aku mengabari keluargaku dan keluarga suami – sekaligus meminta doa dari mereka. Perdebatan mulai terjadi di pihak keluarga. Mereka nggak mengizinkan saya melakukan induksi karena menurut mereka melahirkan menggunakan induksi akan jauh lebih sakit dibandingkan tanpa induksi.

Karena keinginanku yang kuat untuk berusaha melahirkan normal, aku dan suami hanya menjawab, “Selama Dokter yakin dengan proses normal, maka kami juga yakin dengan keputusan Dokter.”

15:00 WIB

Aku kembali kerumah sakit. Nggak banyak kontraksi yang terjadi. Dosis obatpun ditambah dan Dokter menyuruhku kembali 3 jam berikutnya. Bingung mau kemana lagi, akhirnya aku memutuskan untuk creambath di salon dekat Rumah Sakit.

18:00 WIB

Tiga jam kemudian, lagi-lagi aku belum merasakan kontraksi hebat. Dokter menyuruhku untuk masuk ruang observasi, kembali CTG, dan cek bukaan dalam. Tanpa disangka, ternyata kontraksiku sudah menunjukan angka yang cukup tinggi dan sudah bukaan 3. Dosis induksipun ditambah dan diganti dengan infus. Ready or not, here we come!

fullsizerender-4

20:00 WIB

Keluargaku telah berkumpul dan mengunjungi secara bergantian. Kontraksi mulai aku rasakan, namun belum teratur. Suster berulang kali menyuruhku untuk istirahat agar stamina terjaga, tapi karena ini pengalaman pertama, perasaanku nggak karuan sehingga menyulitkanku untuk tidur. I’m both excited and nervous. It’s a mixed feeling!

23:00 WIB

Akhirnya aku memutuskan untuk tidur karerna suster bilang pembukaanku belum bertambah dan kemungkinan ini akan memakan waktu yang lama. Salah satu suster bahkan mengatakan, bahwa kemungkinan anakku baru akan lahir besok siang. Keluargakupun akhirnya kami minta untuk pulang dan istirahat kembali di rumah – menyisakan aku, suami, dan tentu saja bayi kecil di perut ini.

4 September 2016 – Things are getting VERY real!

1:00 WIB

Tiba-tiba aku terbangun dari tidur singkatku. Aku genggam erat tangan suamiku yang saat itu menemaniku di samping. Sakit sekali rasanya – aku sampai nggak bisa lagi menahannya. Ruangan observasi terdengar hening dan dingin.

1:30 WIB

Air ketubanku pecah. Ada yang mengalir deras. Suamiku langsung bergerak memanggil suster untuk melakukan pengecekan, dan ternyata benar – air ketubanku sudah pecah tetapi pembukaanku tidak bertambah. Sejak saat itu, rasa sakitku mulai teratur. SETIAP 3 MENIT SEKALI sakitnya muncul dan aku hanya bisa meringis kesakitan. One of the worst pain, ever!

3:00 WIB

Suster melakukan pengecekan dan pembukaan sudah bertambah menjadi bukaan 5. Akhirnya ada perkembangan! Genggaman erat suamiku nggak dapat kulepaskan, rasa sakitnya datang secara terus-menerus – menggerogoti perutku sampai aku mulai berteriak kesakitan. Aku tau bahwa aku nggak seharusnya berteriak karena berteriak hanya akan menguras energiku. Aku coba redam, aku coba tenang, persalinan masih jauh pikirku.

4:00 WIB

Nggak terasa, pembukaanku sudah memasuki pembukaan 7. Cepat sekali! Bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan suster dan Dokterku. Aku mendengar suster menelpon Dr. Musa untuk datang, dan 30 menit kemudian aku dipindahkan ke ruangan bersalin.

4.30 WIB

Ruangan itu terasa menakutkan. Bangunan tua (menyerupai bangsal), tempat tidur yang keras, lampu yang terang, dan segala peralatan persalinan telah disiapkan. Sakitkupun tak berhenti datang, hingga tanpa aku sadar, aku mulai mengenjan padahal suster sudah mengingatkan untuk nggak melakukan dorongan. Tangan suamiku mulai membiru karena nggak kulepaskan satu detikpun. Sebagai gantinya, suster menyuruhku untuk memegang gagang besi yang berada di pinggir tempat tidur.

5:00 WIB

Dokterpun datang, dengan senyum santainya dia mengucapkan “selamat pagi” sambil mengenakan jubah hijaunya. Setelah pembukaan sudah lengkap, dokter mengajarkanku untuk melakukan dorongan tanpa suara, tanpa berteriak, karena mengeluarkan suara membuat energiku semakin terkuras.

Dorongan pertamaku gagal, dokter menyuruhku untuk menambah energinya. Kemudian aku dorong kembali sampai 3 kali dan badanku mulai melemah. Di tengah hiruk-pikuk pagi itu, Dokterku masih sempat mengatakan, “Ah, kalo cuma segini energinya, anakmu nggak bakalan keluar. Kita mah bisa ngopi-ngopi dulu.” Suster lalu memberiku teh hangat untuk menambah energi.

Setelah aku merasa cukup kuat, aku melakukan dorongan lagi dengan 2 kali mengambil nafas – hingga tiba-tiba, detik-detik yang telah kami nantipun terjadi. Dokter mengucap lantang, “Stop dorongannya! Buka mulutmu sekarang!”. Tak lama kemudian aku mendengar ada suara air yang terhempas ke lantai disusul oleh tangisan bayi yang lirih. Iya, itu bayiku. Ia telah lahir pada pukul 5:30. Badanku yang lelah tak dapat mengekspresikan kebahagianku. Bayiku ditidurkan di dadaku, namun tangan ini sudah tak sanggup lagi menggapainya. Rasa lelah, sakit, dan luapan kebahagiaan menjadi satu. Alhamdulillah, Alhamdulillah, wa Syukurillah. Suamiku segera mengabarkan ini ke seluruh keluarga.

7.30 WIB

Suster memindahkanku ke kamar agar dapat beristirahat dan anakku sudah dikirim ke kamar bayi untuk dibersihkan. Selang beberapa jam, Ayah dan Ibu mertuaku telah sampai di Rumah Sakit. Mereka mengambil flight pertama untuk terbang dari Malang ke Jakarta agar dapat segera menemui cucunya.

Minggu, 4 September 2016 cukup melelahkan bagiku dan bagi suamiku. Genap sudah 36 jam tanpa tidur sedikitpun. Hari itu pula-lah yang menyadarkan kami bahwa perjuangan kami membuahkan satu teman kecil yang telah lahir dengan sehat dan Insha Allah akan menemani hari-hari kami selanjutnya. Sesuai dengan makna namanya, “Sophia Khaliluna Ikrami”, tetaplah menjadi kekasih hati kami yang bijaksana! Aamiin.

img_0773

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s