Diet Mudah (dan Hemat) Pasca Melahirkan

Sembilan bulan kehamilan mengakibatkan berat badanku naik fantastis dari 52 kg menjadi 72 kg. Cukup panik sih melihat kenaikan 20 kg ini, apalagi ketika gerak tubuhpun jadi melambat. Suamiku selalu berusaha menyemangatiku dengan berkata, “Tenang aja, nanti pasti beratnya turun lagi ko,” agar aku lebih cuek.

Foto ini diambil saat kehamilan memasuki usia 8 bulan (atau 18 kg lebih berat dibandingkan sebelum hamil).
Tampaknya, fakta tak seindah yang dibayangkan. Sehari setelah melahirkan, berat badanku hanya turun 4 kg (menjadi 68 kg). Lantas kemana 16 kg sisanya? Oh no! Saat lahir, bayiku ternyata tidak terlalu besar (hanya 2,8 kg), sedangkan 1,2 kg lainnya kemungkinan besar hanyalah air ketuban.

Sebagai Ibu-Ibu baru yang tak bersuster, seminggu pertama pasca melahirkan adalah momen-momen yang melelahkan. Aku harus begadang setiap malam hingga tanpa sadar, beratku turun drastis ke angka 62 kg. Total sudah turun 10 kg sih, namun masih jauh dari ideal. Aku ingin sekali melakukan diet, tapi suami dan ibuku melarang keras karena khawatir mempengaruhi kualitas dan kuantitas ASIku.

Foto ini diambil ketika Sophia berusia 2 bulan. Berat badanku sudah turun 10 kg (masih ada target 8-10 kg lagi menuju berat badan ideal).
Baru setelah bayiku berusia 6 bulan (dan aku mulai memberikan MP-ASI kepadanya), aku mulai memberanikan diri untuk berdiet. Diet yang aku lakukan sangat sederhana, tanpa mengikuti teori para pakar, tanpa filter jenis makanan, dan tanpa teknik khusus.

Diet yang kulakukan hanya sesederhana berpuasa. Iya, puasa makan dan nyemil selama 18 jam penuh. Jika lapar, cukup minum air putih saja, tapi bukan minuman berasa dan/atau berwarna. Mudah kan?

Pola Diet (Ini Kuncinya):

  • Waktu makan: 12:00-18:00 (total 6 jam).
  • Waktu puasa: 18.00-12.00 (total 18 jam).

Catatan Penting (The Do’s):

  • Pukul 12:00: Brunch (Sedikit karbohidrat, perbanyak protein & sayur).
  • Pukul 15:00: Coffee Break (Secangkir kopi susu panas & muffin).
  • Pukul 17:00: Healthy Bowl (Buah potong, muesli, chia seeds dan yogurts).

Apakah susah menahan diri untuk berpuasa selama 18 jam? Surprisingly, jawabannya tidak. Di pagi hari, aku disibukkan dengan rutinitas pagi suami dan anakku (menyiapkan sarapan, memandikan Sophia, menyusui, dan lain-lain). Sedangkan di malam hari, aku menyibukkan diri dengan main bersama anakku, ngobrol bersama suami, dan tidur lebih awal.

Diet hanya aku lakukan ketika weekdays (Senin-Jumat) dan break ketika weekends (Sabtu & Minggu). Setiap Sabtu pagi, aku menambahkan olahraga ringan seperti lari selama 15 menit dan angkat beban ringan di pusat kebugaran.

Pola diet ini aku lakukan selama 2 bulan dan hasilnya cukup menggembirakan. Hingga hari ini, aku sudah berhasil menurunkan berat badan sebanyak 8 kg (berat badan sekarang sudah 54 kg, atau hanya 2 kg lebih berat dari ketika sebelum hamil). Kini aku sudah bisa menggunakan baju-baju lamaku kembali yang nyaris usang dan dibuang gara-gara kegendutan.

Meskipun masih bermasalah dengan lengan, tapi sudah mulai PD pake dress sleeveless.
Jika Ibu-Ibu juga mau berdiet, inget ya, tujuan utama berdiet tidak hanya semata-mata untuk menjaga penampilan, namun justru untuk menjaga kesehatan. Tunda diet hingga anak berusia 6 bulan, agar bisa maintain asupan ASI yang cukup bagi bayi. Jangan memaksakan diet jika kondisi tubuh drop dan hubungi Dokter jika ada keluhan yang dirasakan. Selamat mencoba ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s