Berpisah (Kembali) dari Rumah Orang Tua setelah Melahirkan

Foto Rumah
Kamar/ruang bermain yang sudah kami siapkan untuk anakku. Memaksimalkan ruang di apartemen kecil kami.
Meskipun terdengar sederhana, berpisah dan meninggalkan rumah orang tua yang telah kita “tumpangi” selama beberapa bulan pasca melahirkan bukanlah perkara mudah. Bahkan, bagiku & suami, hal ini justu sangat-sangat susah.

Sedikit latar belakang, aku & suami pisah dengan keluarga dan menetap di apartemen kami sejak hari pertama menikah. Orang tuaku tinggal di Tebet (Jakarta Selatan), orang tua suamiku di Malang, sedangkan apartemen kami di Pramuka (Jakarta Pusat). Setelah mengikuti saran dari keluarga dan sahabat, kami berencana untuk menetap di rumah orang tuaku dulu selama 3 bulan pertama pasca melahirkan. Maklum, orang tua baru kan biasanya minim ilmu – dan tinggal kembali bersama orang tua akan sangat membantu.

Awal Mula Tinggal Bersama Orang Tua (lagi)

Singkat cerita, ketika usia kehamilanku memasuki bulan ke-7 (minggu ke-29), aku mengalami pendarahan hebat dan harus dirawat secara intensif selama 2 minggu di Rumah Sakit (baca di sini). Sejak saat itu, aku dan suami memutuskan untuk tinggal bersama orang tuaku lebih awal dari rencana. Dokter melarangku untuk melakukan pekerjaan berat. Jika di rumah orang tuaku, akan ada banyak orang yang bisa menjaga sekaligus merawatku. Akhirnya, terhitung mulai akhir Juni 2016, aku & suami memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuaku dulu hinga waktu yang tak ditentukan.

September 2016, anak pertama kami lahir. Sesuai rencana awal, kami akan menetap selama 3 bulan hingga akhir Desember 2016. Sadar bahwa aku & suami akan meninggalkan rumah orang tuaku, pada November 2016, mereka mencoba untuk meminta kami tinggal lebih lama di rumahnya, “Setelah Mama pikirkan lagi, lebih baik kalian bertiga tinggal disini sampai anak kalian berusia 1 atau 2 tahun. Apartemen kalian kontrakan saja, untuk tabungan.” Meskipun niat dan tujuannya baik, entah kenapa hatiku sedih saat mendengarnya. Bukan karena aku nggak senang tinggal bersama orang tuaku, tapi aku sangat excited untuk tinggal kembali di apartemen kecil kami. To be honest, I miss our white tiny apartment, our privacy, our heart and soul, our HOME – and I think Sophia would love to see her small space too.

Kelebihan & Kekurangan Tinggal Bersama Orang Tua

Jujur, menetap bersama orang tua banyak membantuku dan suami. Secara finansial, kami cukup berhemat. Secara kenyamanan, hadirnya keluarga dan asisten rumah tangga mempermudah aktivitasku. Tapi kami sadar, hal-hal tersebut telah memanjakan kami sebagai individual, dan menjauhkan kami dari dari mimpi-mimpi yang telah kami rancang ketika awal menikah.

Anakku adalah cucu pertama bagi orang tuaku. Hal itu menjadikan orang tuaku semakin tak terpisahkan dengannya. Meskipun aku dan suami sangat mengerti kondisi ini, namun ada beberapa pertimbangan lain yang memaksa kami untuk berpisah (kembali) dengan orang tuaku. Ini adalah beberapa alasannya:

  1. Selain aku, suami dan anakku – rumah orang tuaku diisi oleh 8 orang dewasa. Ruang gerak & privasi kamipun terbatasi. Makin banyak kepala, kemungkinan munculnya konflik secara otomatis meningkat. Jika terjadi, takkan dapat dihindari.
  2. Tanpa bermaksud egois, kami telah merancang mimpi-mimpi hidup kami. Kami sadar, semua itu berawal dari: berpijak di rumah sendiri.

Akhirnya, setelah menghabiskan waktu hampir 10 bulan di rumah orang tuaku, kami memutuskan untuk kembali ke apartemen lagi. Meskipun aku harus menyelesaikan semua tugas rumah tangga tanpa pembantu dan merawat anakku tanpa suster, namun tak ada perasaan yang lebih baik atas keputusan ini. Insha Allah, ini adalah keputusan yang terbaik dan bisa menjadi awal bagi terwujudnya mimpi-mimpi lain kami. Aamiin.

Rasulullah SAW, bersabda:

Jamuan tamu itu tiga hari, dan perjamuannya (yang wajib) satu hari satu malam. Tidak halal bagi seorang Muslim untuk tinggal di tempat saudaranya hingga menyebabkan saudaranya itu terjatuh dalam perbuatan dosa.

Para sahabat bertanya, “Bagaimana dia bisa menyebabkan saudaranya terjatuh dalam perbuatan dosa?” Beliau menjawab, “Dia tinggal di tempat saudaranya, padahal saudaranya tersebut tidak memiliki sesuatu yang bisa disuguhkan kepadanya.”

(HR. Muslim No. 48 dan Abu Dawud No. 3748)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s