Pentingnya Pendidikan Meski Sudah Bertitel Ibu Rumah Tangga

Setuju dong jika pendidikan penting bagi semua orang dan semua golongan — tak mengenal siapa orangnya, berapa usianya dan apa jenis kelaminnya. Pernah dengar quotes ini?

“You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.” – Brigham Young

Semoga semua yang membaca sepakat bahwa perempuan adalah pangkal pendidikan bagi sebuah generasi baru. Mengutip kalimat di atas juga bukanlah hal yang sederhana. Bagi aku pribadi, belajar itu berat. Thesis itu melelahkan. Apalagi ketika thesis harus dikerjaan sembari juggling dengan pekerjaan kantor yang numpuk atau ketika berperan sebagai seorang Ibu. Ya — sebagai seorang Ibu.

Aku memulai pendidikan pasca-sarjanaku di usia 25 tahun. Dulu ketika mendaftar kuliah, cita-citaku sederhana: aku ingin menjadi wanita karir yang produktif. Namun nyatanya, takdir berkata lain — meskipun aku nggak pernah menyesali garis takdirku yang satu ini. Di tahun yang sama, aku bertemu dengan suamiku. Kuliah sih tetep jalan, tapi sambil kuliah aku harus disibukkan dengan ngantor, ngurusin kawinan dan lain-lain. Senin-Jumat kerja, Sabtu pagi-malam kuliah, Minggunya masih ngurusin kawinan. Capek? Banget! Meskipun nyaris menyerah, aku tetap berjanji pada diriku sendiri bahwa aku nggak akan mundur. Aku harus wisuda!

Pesta pernikahan telah usai. Semakin bersyukur aku karena dalam selang beberapa bulan, aku langsung diberi amanah dengan kehadiran calon bayi kami. Di 7 bulan pertama — kehamilan, pekerjaan dan pendidikan nyatanya bisa berjalan lancar beriringan. Proposal thesisku bahkan sudah siap untuk diajukan sidang. Alhamdulillah.

Sibuk mengerjakan revisi thesis di kampus

Drama kecilpun sempat terjadi di pertengahan tahun 2016 — kehamilanku bermasalah. Aku mengalami pendarahan hebat yang membuatku harus memberhentikan segala aktivitasku, baik kerja maupun kuliah (baca di sini). Aku harus bed rest total di rumah sakit selama 2 minggu dan istirahat total di rumah sampai lahiran tiba. Di sini akhirnya aku sadar, apa sebenarnya prioritas hidupku. Aku harus tau hal-hal apa saja yang harus diutamakan dan yang bisa dikesampingkan. Aku akhirnya memutuskan untuk mengambil cuti kuliah 1 semester penuh hingga anakku lahir.

Menjadi Ibu baru ternyata bukanlah perkara mudah. Setelah anakku lahir, aku harus belajar merawat, mendidik dan juga menyusui anakku sepanjang waktu. Akupun menyerah dari pekerjaanku (baca di sini), namun tetap bertekad untuk menyelesaikan lagi kuliahku.

Sibuk mengerjakan revisi thesis di kampus

Setiap aku ingin menyerah, aku selalu mengingatkan diriku sendiri,

“Aku adalah seorang perempuan. Aku adalah seorang Ibu. Aku harus membesarkan anak-anak yang berpendidikan, dan untuk itu aku membutuhkan bekal yang cukup. Aku boleh berhenti bekerja — gagal menjadi wanita karir — tapi aku nggak boleh berhenti kuliah. Aku adalah guru pertama bagi anak-anakku kelak.”

Percayalah, menyelesaikan thesis ketika kita sedang memiliki bayi bukanlah perkara mudah. Lembar demi lembar harus dilalui dengan berbagai tangisan anak. Aku masih ingat betul ketika aku harus mengerjakan thesis tengah malam, karena hanya saat anakku benar-benar tertidur pulaslah aku baru bisa membuka laptopku. Tiap bimbingan dosen, nggak jarang aku membawa anakku ke kampus karena nggak mungkin terus-menerus nitipin dia ke rumah Omanya. Belum lagi jika dosen hanya bisa bimbingan di malam hari, aku harus kejar-kejaran dengan waktu agar bisa tiba di rumah sebelum waktu tidur anakku. Those kind of crazy days, will be forever remembered. And thank God, I’ve finally made it.

Sesaat setelah sidang dan dinyatakan lulus oleh Dosen Pembimbing dan Dosen Penguji
Sesaat setelah sidang dan dinyatakan lulus oleh Dosen Pembimbing dan Dosen Penguji

Akhirnya mengenakan toga wisuda S2 juga!

Sering kali cibiran datang, “Buat apa sekolah tinggi sampai S2? Tamatan SMA juga bisa kalo cuma jadi Ibu Rumah Tangga!” Percayalah, aku ngelakuin ini bukan untuk aku. Aku ngelakuin ini untuk Ibu dan anakku. Nggak ada yang bisa mengalahkan bangganya seorang Ibu ketika anaknya jadi orang yang lebih hebat dibandingkan mereka. Aku yakin, Ibukupun juga seperti itu. Dan suatu hari nanti, aku berharap bisa dengan bangga mengatakan kepada anak-anakku, “Ibu bangga sama kamu Nak, kamu jauh lebih hebat daripada Ibu.”

Keluarga kecilku di hari wisuda
Keluarga kecilku di hari wisuda

Bersama dengan Sophia di hari wisudaku

Untuk teman-teman — para perempuan dan Ibu, yang sedang bekerja, kuliah, atau mengejar apapun cita-citamu — tetap semangat dan jangan menyerah ya.

“When girls are educated, their countries become stronger and more prosperous.”  – Michelle Obama

Advertisements

4 thoughts on “Pentingnya Pendidikan Meski Sudah Bertitel Ibu Rumah Tangga

  1. Yang bilang perempuan ibu rumah tangga tidak perlu pendidikan tinggi itu sudah ketinggalan jaman. Anak pandai datang dari ibu yang pandai, tantangan jaman juga lebih banyak. Salam.

    Like

  2. Tulisan yang menarik, Mbak. Dari dulu perempuan selalu termarjinalkan. Namun, sejalan perkembangan zaman, para orangtua, generasi terdahulu mulai sadar akan pendidikan tanpa memandang gender, usia, dan sebagainya…

    Like

    1. Terima kasih, Mbak. Alhamdulillah saya dididik dari keluarga yg menjujung tinggi pendidikan. Orang tua saya selalu mengatakan bahwa memiliki ilmu akan selalu berguna sampai kapanpun.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s