Siap Menggendut (Lagi) — I’m Expecting Baby Number 2!

Mengandung Anak Kedua Alhamdulillah

Saat baru aja aku pamer ke suamiku kalau berat badanku (akhirnya) kembali normal seperti awal menikah, ternyata (ahem), surprise-surprise — aku hamil lagi. Sejak awal aku dan suami memang nggak pernah berniat pasang KB, sebaliknya justru menyerahkan rencana punya anak kedua 100% kepada Allah. Kabar ini tentu kami terima dengan senang hati. Tapi, apakah ini waktu yang tepat? Akankah Sophia akan mendapat perhatian yang cukup? Atau, kapan aku bisa tidur nyenyak lagi? Hehehe. :p

Ceritanya, aku sudah lebih dari 3 hari terlambat dapet — padahal aku udah ngerasain tanda-tandanya (seperti: keram perut, payudara membesar dan sakit pinggang). Setelah sabar menunggu 5 hari, aku akhirnya tes kehamilan sendiri. Hasilnya ternyata 1 strip (sesuai dugaan). Sambil ber-facetime dengan sahabatku, aku bilang sambil menunjukkan hasil test-pack-ku, “Tuh kan nggak hamil!” Tapi ternyata sahabatku menanggapi berbeda, “Loh, itu garisnya 2 ko. Tapi samar!” Karena ragu, keesokan harinya akupun tes lagi untuk memastikan. Sabahatku benar — 2 strips dan masih samar..

Kami Percaya bahwa Semua Atas Izin Allah SWT

Meskipun menyerahkan semuanya di tangan Allah, aku memang ingin punya anak kedua sebelum menginjak 30 tahun. Aku berharap, di usia 30 tahun, aku bisa fokus mendidik dan membesarkan anak-anaku.

Dulu waktu Sophia lahir, aku pernah berujar ke suamiku, “Pengen deh punya anak lagi saat Sophia masuk tahun ketiga.” Sesaat setelah wisuda, aku juga pernah bertanya, “Setelah lulus Aku ngapain ya, Pak?” Ternyata, segala harapan dan pertanyaan langsung dijawab oleh-Nya. Hanya selang beberapa hari, aku dan suami diberi tanggung jawab baru sebagai calon orang tua dengan 2 anak. God is good, right?

Kenapa ingin punya anak lagi setelah Sophia 3 tahun dan sebelum aku 30 tahun? Berdasarkan informasi yang aku baca, jeda 3 tahun dapat menjaga Ibu agar tetap “waras” dalam menjalankan perannya. Setelah lama begadang, ada waktu cukup untuk tidur nyenyak sebentar sebelum harus siap bangun tengah malam lagi. Bagi anak — karena rentang usia yang nggak jauh berbeda — Kakak dan Adek bisa menikmati beberapa permainan yang sama (dan bermain/belajar bersama). Belum lagi fakta bahwa Kakak bisa menjadi mentor internal untuk perkembangan fisik dan verbal Adek. Sering denger kan, kisah tentang perkembangan anak kedua yang cenderung lebih cepat akibat adanya dukungan internal sang Kakak?

Memilih Dokter Obgyn dan Rumah Sakit Part 2

Di kehamilan kedua ini, aku dan suami sepakat untuk eksplor alternatif Dokter dan Rumah Sakit baru. Tentunya, hal ini bukan berarti kita nggak puas dengan Dokter dan Rumah Sakit kami sebelumnya (baca di sini). Ingat ya, tulisan ini bersifat sangat subjektif, dinilai dari pengalaman pribadiku, tanpa bermaksud menggeneralisir institusi atau Dokter yang disebutkan.

  1. RSIA Asih Panglima Polim, Jakarta Selatan (Dr. Musa Soebijantoro, Sp.OG). Ini adalah Rumah Sakit dan Dokter tempat aku melahirkan anak pertamaku. Sesuai prediksi, resiko kontrol di Dokter dan Rumah Sakit populer di Jakarta saat weekend adalah: siap antri. Tapi antrian kali ini berbeda. Kami dibuat kelelahan karena telah menunggu hampir 2 jam, dan nomor antrianpun masih jauh. Jujur — aku, suami dan Sophia nggak punya banyak waktu dan energi lagi untuk menunggu.
  2. Klinik Spesialis Moegni, Jakarta Pusat (Dr. Fernandi Moegni). Menurut review, klinik ini dikenal agak sedikit mahal dibandingkan biaya untuk Dokter yang sama yang juga praktek di Rumah Sakit YPK Mandiri. Antriannya sih terlihat lebih manusiawi. Saat kami tiba, Dr. Fernandi Moegni sudah terlambat 1 jam dari jadwal seharusnya. Kamipun sabar menunggu sekitar 45 menit. Tiap ditanya, Suster mengatakan, “Dokter sudah di jalan, sedikit lagi tiba.” Nyatanya, selang beberapa saat, Suster meralat, “Maaf, Dokter nggak datang karena ada tindakan.” Nyesek rasanya, hal-hal seperti ini nggak well-informed dari awal.
  3. Bunda International Clinic, Jakarta Pusat (Dr. Caroline Hutomo). Tiba pada perburuan selanjutnya, aku memutuskan untuk ke Rumah Sakit terdekat. Di luar dugaan, ternyata BIC sangat padat dan antriannya chaos (I really mean it). Karena nggak kenal Dokter yang recommended, petugas administrasi menyarankanku untuk mencoba Dr. Caroline Hutomo yang antriannya relatif lebih pendek. Dokter Caroline menyambut kami dengan ramah dan langsung melakukan USG intravaginal. Karena belum terlihat jelas, ia memintaku melakukan tes HCG melalui darah. Ada yang mengganjal bagi kami — ia menanyakan apakah aku masih memberikan ASI kepada anak pertamaku? Ketika aku jawab “Iya”, beliau meminta aku untuk segera berhenti mengASIhi agar nggak keguguran. Jujur aku dan suami kaget dan sedih mendengarnya. Menyapih bukanlah hal mudah. Hal ini juga berbanding terbalik dengan banyak artikel yang aku baca, bahwa jika kandungan dalam keadaan normal, pemberian ASI boleh dilakukan.

Perburuan kami dalam mencari Dokter terbaik masih terus kami lakukan. Saat aku menemukan Dokter dan Rumah Sakit yang cocok, aku akan kembali dan berbagi di sini. Mohon doanya ya! Semoga perjalanan kehamilan keduaku berjalan sehat, baik dan lancar hingga due-datenya. Finger crossed!

“Ya Allah, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau adalah Maha pendengar permohonan (doa).” – QS. Ali Imran 38

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s