Ringkasan Buku: “10 Langkah Menjadi Financial Planner untuk Diri Sendiri (Khusus Ibu Rumah Tangga)”

Sejak beli dan dipost di IG Stories beberapa hari lalu, aku terima DM dari teman-teman (yang beberapa diantaranya adalah Ibu-Ibu) — nanyain apa aja hal-hal yang dijelaskan di dalam buku “10 Langkah Menjadi Financial Planner untuk Diri Sendiri (Khusus Ibu Rumah Tangga)” dari duo penulis Nadya Moeliono & Iin Susanto. Karena kebetulan baru selesai baca juga, aku baru sempat berbagi sekarang. Semoga ringkasan isi bukunya bermanfaat ya!

Kesalahan Umum dalam Financial Planning Keluarga

  • Menabung hanya kalo ada sisa penghasilan.
  • Bikin tabungan tanpa tujuan. Idealnya, nabung harus punya tujuan (yang dibagi dalam beberapa jenis: jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang).
  • Nggak punya dana darurat (uang yang dicadangkan dan dialokasikan terpisah untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya darurat). Berpikiran bahwa menabung adalah dana darurat = salah.

Pentingnya Membuat Catatan Keuangan

Ini adalah hal paling gampang tapi juga yang susah untuk dilakuin secara konsisten. Masalahnya, tanpa bikin anggaran keuangan & catatan pendapatan/pengeluaran, seringkali kita bingung gara-gara duit abis entah kemana. Apa aja yang harus dicatat di buku kecil kita (para Ibu)?

  • Pendapatan (misalnya: gaji suami, gaji istri, penghasilan sidejobpassive income lainnya, dsb).
  • Tagihan rutin (misalnya: zakat, biaya sekolah anak, PLN & PDAM, internet, telepon & pulsa, dsb).
  • Cicilan/utang (misalnya: KPR/KPA, leasing mobil, dsb).
  • Asuransi, investasi, tabungan dan dana darurat.
  • Pengeluaran rumah tangga (misalnya: belanja, hangout di mall, uang saku anak, dsb).

Menyiapkan Pendidikan Anak

Menyadari salah satu yang harus segera dirancang yaitu Pendidikan Anak

Fokus pada pengeluaran sehari-hari kadang bikin kita lupa bahwa anak-anak kita masih harus mengenyam perjalanan panjang dalam mendapat pendidikan layak. Sebagai orang tua, pastinya kita hanya mau menyekolahkan anak-anak kita di sekolah terbaik kan? Tapi sayangnya, kenaikan biaya pendidikan seringkali nggak seimbang dengan laju inflasi. Jauh meroket!

Yang bisa dilakukan sekarang adalah bikin proyeksi biaya pendidikan mulai dari TK hingga kuliah. Cari tau berapa biaya sekolah impian kita sekarang, lalu hitung proyeksi berapa biayanya di 3-15 tahun mendatang. Saat budgeting, jangan hitung biaya sekolahnya aja tapi tambahkan biaya lain-lain seperti biaya jemputan, katering, ekstrakurikuler, buku, wisuda, outing, dsb. Yang terpenting, mulai menabung dari sekarang — melalui: tabungan pendidikan, asuransi pendidikan, reksadana pendidikan atau tabunga emas.

Mengenal Asuransi Sebelum Membeli

Meskipun ada beragam produk asuransi yang dijual, tapi secara umum, hanya ada 2 produk asuransi yang penting untuk dimiliki oleh keluarga, yaitu Asuransi Jiwa (untuk suami) dan Asuransi Kesehatan (untuk istri & anak, khususnya bagi mereka yang istri & anaknya nggak ditanggung oleh kantor suami).

Hindari asuransi gabungan seperti unit link, tapi utamakan punya asuransi jiwa/kesehatan murni. Mengapa? Karena preminya relatif kecil dan proteksinya besar. Kekurangannya, asuransi jenis ini nggak punya nilai investasi. Artinya, investasinya di instrumen keuangan yang lain aja!

Berhutang Boleh Saja, Tapi…

Tapi jika berhutang produktif, bukan hutang konsumtif. Apa bedanya? Hutang konsumtif seringkali diiringi dengan penurunan nilai aset, nggak menghasilkan income dan punya bunga tinggi. Sedangkan hutang produktif selalu diiringi dengan kenaikan aset (misalnya: KPR/KPA) dan memberikan income. Meskipun punya bunga tinggi, namun nilai bunganya masih lebih rendah dari nilai kenaikan asetnya. Membeli mobil untuk disewakan/menjadi usaha juga salah satu jenis hutang produktif.

Alokasi Pembagian Kebutuhan Keluarga

Formula mudah alokasi pembagian kebutuhan keluarga: 50-30-20 Rules!

Nah, foto di atas adalah cara paling mudah untuk membagi-bagi pendapatan kita ke dalam pos-posnya. Nggak perlu dijelaskan lagi ya! Syukurlah kalo kita udah terbebas dari utang, sehingga 30%nya bisa digunakan sepenuhnya untuk tabungan, dana darurat dan investasi. Atau, lebih mantap lagi jika kita bisa memangkas biaya gaya hidup dari 20% menjadi hanya 10% atau 0%. Is it possible though?!

Gimana? Apakah ada hal-hal baru yang bisa dipelajari dari tulisan ini? Tentunya, tulisanku ini hanya ringkasan singkat dari lebih banyak hal lain yang diulas (termasuk beberapa jenis investasi yang bisa dipelajari). Yang penasaran bisa membeli langsung di Gramedia book-store atau di link ini untuk support penulisnya ya.

Advertisements

2 thoughts on “Ringkasan Buku: “10 Langkah Menjadi Financial Planner untuk Diri Sendiri (Khusus Ibu Rumah Tangga)”

    1. Mungkin karena di negara kita, finasial bisanya diolah sama si Ibu. Dan secara isi dan bahasa memang ini lebih prempuan banget. Sebenernya buku ini ada macem2 mba, 10 langkah menjadi financial dengan edisi berbeda, edisi untuk ibu rumah tangga, edisi untuk freelancer. Jadi memang difokuskan untuk beberapa orang yang mempunyai pekerjaan yang berbeda2.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.