Berhasil Melewati Sindrom Baby Blues Bersama Suami

Setelah satu bulan pasca melahirkan anak kedua — hari ini akhirnya aku bisa berkata, “Alhamdulillah, badai telah berlalu.” Baby blues (fase awal Postpartum Depression) perlahan telah meninggalkanku. Hari-hari cemasku, detak debar jantungku, serta letupan emosi dan tangisanku jangan pernah kembali. Ini adalah sepenggal kisah yang aku harap tak akan terulang lagi…

Hari-Hari Pertama Pasca Melahirkan: The Joy

Sama seperti sebagian besar para Ibu, sesaat pasca melahirkan terasa begitu indah. Bagiku, lengkap sudah rizki Allah karena telah memberi kami sepasang malaikat yang menjadikanku seorang Ibu.

Saat itu, belum kebayang seperti apa rasanya mengasuh 2 anak kecil sendirian. Apalagi selama ini aku nggak pernah punya ART atau suster. Jadi mau ngapain aja selalu dikerjakan sendirian. I wasn’t complaining for this, because I thought I was always enjoying these moments…

Hingga sebelum Saladin lahir, aku sangat menikmati waktu berdua bersama si sulung sambil menanti suami pulang bekerja. Aku selalu mengajaknya bermain, belajar dan melibatkannya membersihkan rumah bersama. Nyatanya, momen indah itu berubah menjadi mimpi buruk saat si bontot lahir. And that was when the nightmare began…

Minggu Pertama Pasca Melahirkan: The Struggle

Indahnya momen pasca lahiran telah berakhir. Begadang, kurang tidur, pola makan berantakan, dan membagi fokus merawat 2 anak kecil sekaligus membuatku kelelahan. Si sulungpun tak seperti biasanya. Ia sering berteriak dan mengeluh karena waktu bermainnya denganku lebih sedikit. Si bontot juga sering menangis karena merasa kurang dengan ASI-ku. I am stressed out! Aku jadi mudah sekali marah dan ironisnya, si sulung yang menjadi objek amarahku.

Aku sadar ini salah. Tiap usai memarahi si sulung, aku merasa bersalah dan menangis. Saat anak-anakku tidur siang, aku kerap menangis tanpa alasan. Bahkan melihat wajah-wajahnya yang polos tertidur pulaspun membuat aku tertekan. Aku merasa gagal memberikan yang terbaik. Beberapa kali si sulung terbangun dan memergokiku sedang menangis — lalu ia berempati memelukku dan larut menangis berdua.

Aku seperti robot. Melakukan rutinitas yang sama setiap harinya. Semuanya nggak lebih seperti kewajiban yang dilakukan tanpa cinta dan ketulusan di dalamnya. Hati kecil seraya berkata, aku nggak peduli asal mereka kenyang. Menyedihkan, tapi inilah kenyataannya. Aku harus bangkit dan cari jalan keluarnya.

Minggu Kedua Pasca Melahirkan: The Constant Stress

Berat badanku turun hampir 500 gram setiap harinya. Nggak nafsu makan, bahkan tidur. Bagiku melewati malam yang tenang terasa jauh lebih mudah daripada siang yang mencekam.

Lalu kemana suamiku? Apakah ia tak menyadarinya?

Ada, tapi aku berusaha menyembunyikan ini darinya meski ia sadar betul emosiku makin meledak-ledak. Aku melihat usahanya untuk membantuku mengurus anak — tapi saat ia harus bekerja, lagi-lagi aku harus berjuang sendirian. Aku selalu takut dan panik saat suamiku pamit berangkat kerja, apalagi kalau ia izin untuk pulang lebih malam karena meeting yang panjang.

Tapi entah siapa yang bisa menolongku jika bukan ia? Sebelum situasi makin buruk, aku akhirnya memutuskan untuk menghubunginya di jam makan siangnya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Trust me, sharing is relieving and I’m glad I’m doing it.

Minggu Ketiga Pasca Melahirkan: A Quick Fix

Setelah suamiku memahami apa yang sedang terjadi — ia berusaha meningkatkan intensitas bantuannya, khususnya di waktu “jaga malam”. Meski aku tau ia benci cuci piring, kini ia membantuku mencuci botol-botol ASIP di waktu luangnya. Waktu bermain dengan si sulung jadi lebih banyak. Pulang kantorpun jadi lebih cepat. Selain itu — keputusan besar juga, kami sepakat mencari ART yang tinggal di rumah untuk membantuku mengerjakan pekerjaan domestik dan menjaga anak.

Alhamdulillah, aku dan suami cukup terbantu dengan hadirnya ART. Aku yang biasa sendiri ini juga nggak mau menyerahkan segalanya kepada ART. Bagi-bagi tugas antara kamipun dilakukan, misalnya: 1) ART memandikan si sulung, aku yang memijat dan pakaikan baju. 2) ART menyiapkan masakan si sulung, aku yang menyuapi sambil menyusui si bontot.

Minggu Keempat Pasca Melahirkan: Survived!

Nggak lama setelah team work antara aku, suami dan ART semakin solid — kini nafsu makanku telah kembali. Tidur terasa lebih nyenyak, dan yang pasti, aku bisa melewati siang hari dengan lebih santai dan mudah. Yes, I survived from the suffer…

Untuk ibu-ibu yang sedang melewati fase ini — jangan malu, ragu atau takut untuk meminta bantuan kepada orang-orang terdekat yang dipercaya. Yakinlah bahwa dengan bercerita, hati terasa lega dan masalah lebih mudah diurai.

Jika hal yang sama terjadi pada istri, saudara atau sahabat — segera pelajari dan beri ia bantuan. Artikel-artikel di bawah ini bisa mencerahkan:

  1. https://www.parents.com/baby/health/postpartum-depression/postpartum-depression-postpartum-depression-vs-baby-blues/
  2. http://americanpregnancy.org/first-year-of-life/baby-blues/
  3. https://www.webmd.com/depression/postpartum-depression/babyblues-postpartum#1
  4. https://www.marchofdimes.org/pregnancy/baby-blues-after-pregnancy.aspx

~ Salsabila Maharani Boekoesoe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.