In the Life (Dilemma) of a “Mother of Two”

Setelah keluar dari baby blues — ternyata menjadi Ibu dengan 2 anak memang tak pernah sederhana (apalagi Ibu dengan 11 anak ya?!). Berdamai dengan diri sendiri tak berarti telah berdamai dengan hal lainnya (dalam hal ini adalah sang Kakak). Kini sang Kakak jadi sering merengek, merajuk, menangis, mengeluh karena jarang bermain-main lagi denganku, dan lain-lain. Well, welcome to another dilemma..

Mulai Berbagi Tugas dengan ART

Setelah terbiasa hidup sendiri, Aku dan suami memutuskan untuk menggunakan jasa ART. Suamiku merasa bahwa ART dapat membantuku saat ia sedang berada di kantor. Meski kini sudah memiliki ART, aku ingin memastikan agar tak kehilangan waktu bermain dengan kedua anakku. Ia kutugaskan hanya untuk membantuku membersihkan rumah dan mengawasi Sophia (anak sulungku) bermain.

Di usia Sophia yang telah menginjak 2 tahun, keinginannya untuk bermain amatlah besar (50% aktivitas hariannya adalah bermain). Sayangnya, terkadang waktu dan energi yang aku miliki tak cukup untuk memenuhi ajakan main Sophia. Tingkat kebutuhan Saladin (anak bontotku) kepadakupun sangat tinggi. Sebelum ada ART, tak jarang Sophia sedih dan kecewa karena aku tak bisa menemaninya bermain karena harus meng-ASI-hi adiknya.

Observasi, Lalu Mulai Mengubah Pola Asuh

Aku sadar bahwa bermain adalah hal penting bagi Sophia, sebagai proses pengembangan kreativitas dan daya hayalnya. Untuk itu, Sophia tak bisa terus-menerus mengalah demi adiknya, agar ia tak berpikir bahwa kehadiran adiknya adalah hal buruk yang telah mengubah hubungannya dengan aku.

Aku mencoba menempatkan diri pada perasaan sang Kakak yang sebelumnya selalu menjadi pusat perhatian semua orang (namun hilang sejak adiknya lahir). Banyak orang tak terkecuali aku dan suamiku masih disibukkan dengan hadirnya sang Adik. Tak jarang pula, kami menuntut Kakak untuk membantu menjaga Adik. Aku kadang lupa bahwa Kakak juga masih seorang anak yang hanya ingin bermain, tanpa harus memikul tanggung jawab sebesar itu.

Berusaha untuk memperbaiki situasi, aku dan suami mengubah pola asuh kami. Di 3 bulan pertama, kami berusaha semaksimal mungkin untuk lebih fokus pada Kakak, bukan Adik. Meski tak selalu menemaninya bermain, tapi sebisa mungkin aku tetap melakukan rutinitas yang biasa kami lakukan bersama seperti mandi, memijat & memakaikan baju, makan dan tidur bersama berpelukan. Di setiap rutinitas tersebut, aku selalu menyisipkan cerita bahwa Adik membutuhkan ASI ibu karena hanya itu yang Adik butuhkan sekarang.

Di 3 bulan pertama ini, aku selalu berusaha untuk hadir lebih banyak dalam hari-hari sang Kakak. Lalu bagaimana dengan Adik? Cukup fokus meng-ASI-hi saja. Jadi biasanya sebelum aku menyuapi Kakak makan atau sebelum Kakak mandi, aku memberikan ASI yang cukup terlebih dahulu untuk Adik sampai dia tertidur pulas. Kemudian, baru melakukan aktivitas normal lainnya bersama Kakak.

What’s Next?

Jujur aku belum merancang rencana apa yang akan kulakukan saat Adik sudah berusia lebih dari 3 bulan. Aku yakin seiring dengan berjalannya watu, Kakak akan mulai mengerti dan beradaptasi dengan situasi ini, sehingga aku dapat perlahan memiliki juga bisa mendampingi golden-moment sang Adik.

Satu hal yang terpenting dan aku pelajari sejak menjadi Ibu 2 anak — adalah jangan pernah memaksa anak untuk mengerti dan menerima begitu saja kehadiran sang Adik (karena bisa saja ia tak pernah berharap memilikinya). Yang bisa kita lakukan adalah membantunya mengerti, bahwa kini ia sudah tak sendiri lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.