Alasan Menyekolahkan Anak di Masa Pandemi

Di awal tahun 2020 lalu — setelah aku dan suami melakukan beberapa riset dan mengikuti beberapa trial sekolah-sekolah terbaik di Tebet — kami akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan anak pertama kami, Sophia, di Kinderfield untuk tahun ajaran baru 2020/2021. Sayangnya, selang beberapa minggu berjalan, pandemipun melanda negeri ini. Berat rasanya harus membayangkan Sophia tak akan belajar secara langsung di sekolah tanpa adanya interaksi sosial.

Kami cukup skeptis untuk menyekolahkan anak kami di masa pandemi seperti sekarang. Belajar secara daring — apalagi untuk anak di usia dini — kami rasa kurang optimal. Untungnya, pihak sekolahpun tak pernah memaksakan kami untuk mengikuti kelas di tahun ajaran 2020/2021. Lebih leganya, kami tak dipaksa membayar development dan tuition fee jika memutuskan untuk tak memulai sekolah sesuai jadwal. Kinderfield benar-benar menyerahkan semua keputusan sepenuhnya kepada orang tua. Setelah diskusi panjang lebar dengan suami, kami memantapkan diri untuk menunda sekolah Sophia di tahun ajaran baru nanti.

Akhirnya tahun ajaran baru 2020/2021 dimulai. Sebelum term mulai, kami mendapat undangan dari Kinderfield untuk mengikuti Online Summer Class secara gratis. Ada 6 kelas gratis selama 2 minggu sepanjang Juni 2020. Kelas tersebut dihadiri sekitar 10 hingga 15 anak dengan 3-5 tenaga pengajar. Surprisingly, meski kelas dilakukan secara daring, Sophia cukup antusias mengikuti program tersebut — mungkin karena ini adalah kelas pertamanya sebagai seorang murid ya…

Setiap harinya Sophia diberi aktivitas dengan memanfaatkan barang-barang yang ada di rumah. Aktivitas ini dihadiri oleh murid-murid di Kinderfield dan calon murid yang pernah mengikuti trial class di Kinderfield. Di kelas-kelas tersebut, aku cukup kagum melihat perkembangan anak-anak seumur Sophia yang sudah sekolah lebih awal. Mereka punya keberanian untuk berbicara di depan umum dengan menggunakan Bahasa Inggris dan keterampilan dalam mengenal angka dan huruf yang lebih banyak dibandingkan Sophia. Sophia sangat terbantu dengan aktivitas-aktivitas yang diberikan dan ternyata itupun membantu kami sebagai orang tua untuk mengantisipasi kebosanan anak di masa pandemi ini.

Setelah 2 minggu berlalu, kami melihat ada banyak hal positif yang didapat dari Online Summer Class tersebut. Kami merasa Sophia sudah siap untuk pergi sekolah. Ia cukup terampil dalam mengerjakan aktivitas-aktivitas yang diberikan sekolah. Yang paling penting, ia selalu siap menyambut sekolah dengan suka cita. Sophia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan seluruh perlatan sekolahnya satu jam sebelum sekolah dimulai. Bahkan dia menyiapkan baju apa yang akan ia gunakan di setiap kelas. Bagi kami, ini adalah perubahan baik yang dapat kami lihat padanya. Begitupun ketika Online Summer Class berakhir, Sophia merasa kehilangan aktivitas pagi yang telah menemaninya selama 2 minggu terakhir. Ia-pun bertanya kepada kami “Kalau nggak sekolah, Aku ngapain lagi di rumah, Bu?”

Ternyata pandemi ini bukan hanya memberikan pukulan keras bagi kami “orang dewasa”, namun begitu pula bagi Sophia. Ia harus menghabiskan waktu setiap hari di rumah saja tanpa kegiatan yang berarti. Sering ia bertanya, “Kapan pandeminya selesai? Aku mau ke sekolah.” Sebaik-baik kami memberikan alternatif aktivitas yang seru di rumah, namun tak ada yang lebih baik saat Sophia mendapat aktivitas yang berarti dan produktif — lebih dari sekedar membaca buku, main di tenda, menyusun puzzle, atau nonton YouTube kesukaannya.

Akhirnya, demi kewarasan anak dan orang tua, kami memutuskan untuk berkonsultasi ke Kinderfield dan menanyakan bagaimana kesiapan Kinderfield dalam menyelenggarakan sekolah daring. Kinderfield menjelaskan bahwa mereka telah menyiapkan segala peralatan sekolah yang dibutuhkan selama 1 term di dalam kotak Home Learning Kit, sehingga orang tua tak akan direpotkan untuk menyiapkan segala kebutuhan anaknya yang (tak jarang) cukup rumit. Yang perlu disiapkan oleh orang tua hanya laptop/tab dan internet saja. Agar lebih optimal, pihak sekolah juga mengharuskan setiap proses belajar-mengajar untuk didampingi oleh orang tua/nanny, agar anak-anak dapat lebih konsentrasi saat proses belajar berlangsung. Anak-anak juga diwajibkan untuk menggunakan seragam sekolah agar secara mental dan fisik mereka siap menghadapi sekolah.

Melihat kesiapan Kinderfield, kami perlahan memantapkan diri untuk menyekolahkan Sophia di term kedua tahun ajaran 2020/2021. Biaya yang kami keluarkan juga hanya term yang kami ikuti saja — artinya, kami tak perlu membayar term yang Sophia tak ikuti. Berikut adalah rincian biaya yang harus dibayarkan di tahun pertama di Kinderfield ya:

  1. Entry Tuition Fee (dibayarkan 1x): Rp. 14.000.000.
  2. Development Fee (dibayarkan tiap awal tahun ajaran): Rp. 4.000.000,
  3. Term Tuition Fee (dibayarkan tiap 3 bulan sekali): Rp. 4.860.000.

Haruskah kita menyekolahkan anak-anak usia dini saat pandemi seperti sekarang? Bagiku, iya. Namun apakah ini berlaku untuk semua? Tentu saja tidak. Jangan lupa untuk observasi apakah anak-anak Ibu happy atau engga ya. Kalau mereka nggak menikmati, sehingga apapun yang disampaikan secara daring tak akan memberi dampak positif apapun, maka jangan dipaksakan! Sebaliknya, jika sekolah daring ternyata dirasa menyenangkan daripada terus bosan karena harus di rumah terus, maka silakan dicoba.

Good luck, Ibu-Ibu. Semangat dalam menentukan pilihan ya, karena tahun ajaran baru sudah di depan mata! 🙂

~ Salsabila Maharani Boekoesoe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.