Berkenalan dengan Kolik, yang Bikin Anakku Menangis Histeris Setiap Malam

Berkenalan dengan Kolik, yang Bikin Anakku Menangis Histeris Setiap Malam

Apakah kolik itu? Tanpa tau apa-apa, aku sukses dibikin panik dengan tingkah pola aneh anak keduaku. Tiba-tiba aja ia menolak keras penggunaan botol susu. Lebih buruknya lagi, ia menolak direct breastfeeding juga di malam hari.mBahkan pernah, ia menolak ASI satu hari penuh sambil terus menangis dan hanya mau tidur jika ditimang.

Advertisements

In the Life (Dilemma) of a “Mother of Two”

In the Life (Dilemma) of a “Mother of Two”

Setelah keluar dari baby blues, ternyata menjadi Ibu dengan 2 anak memang tak pernah sederhana. Berdamai dengan diri sendiri tak berarti telah berdamai dengan hal lainnya (dalam hal ini adalah sang Kakak). Kini sang Kakak jadi sering merengek, merajuk, menangis, mengeluh karena jarang bermain-main lagi denganku, dan lain-lain. Well, welcome to another dilemma..

Berhasil Melewati Sindrom Baby Blues Bersama Suami

Berhasil Melewati Sindrom Baby Blues Bersama Suami

Satu bulan pasca melahirkan anak kedua -- hari ini akhirnya aku bisa berkata, "Alhamdulillah, badai telah berlalu." Baby blues (fase awal Postpartum Depression) perlahan telah meninggalkanku. Hari-hari cemasku, detak debar jantungku, serta letupan emosi dan tangisanku semoga jangan pernah kembali. Ini adalah sepenggal kisah yang aku harap tak akan terulang lagi...

Keputusanku Untuk Tak Menyekolahkan Anak Terlalu Dini

Keputusanku Untuk Tak Menyekolahkan Anak Terlalu Dini

Awalnya, sebagai Ibu "milenial", aku sangat tertarik untuk mengobservasi dan mengeksplorasi tumbuh kembang anak yang disekolahkan dini oleh orang tuanya. Jujur aku penasaran atas dampaknya. Katanya, bersekolah dapat meningkatkan kemampuan akademik dan sosialisasi anak dengan lingkungannya. Tapi setelah mendalaminya, apa sebenarnya manfaat menyekolahkan anak di usia dini? Tepatkah? Haruskah? Lalu kapan usia yang tepat untuk menyekolahkan anak?