Menyambut Anak Ke-2 Setelah Melalui 36 Jam Induksi

Menyambut Anak Ke-2 Setelah Melalui 36 Jam Induksi

Sebulan nggak nulis blog, aku akhirnya membuka laptop dan berbagi cerita tentang proses lahiran normal anakku melalui induksi selama 36 jam. Ya -- nggak sedang bercanda -- 36 jam! Tulisan ini dibuat agar kami dapat mengingat kembali hari-hari terindah dan terbesar dalam hidup kami sebagai orang tua. Bonusnya: kelak jika Saladin-Remaja bandel, aku minta dia baca tulisan ini agar ia tau perjuangan panjangku melahirkannya.

Advertisements

Financial Planning #1: Perlahan Memperbaiki Cashflow Keuangan Keluarga

Financial Planning #1: Perlahan Memperbaiki Cashflow Keuangan Keluarga

Bulan lalu kami resmi hidup mandiri (lagi) di rumah baru. Terlena karena banyak ini-itu yang selama ini (tanpa kita sadari) ditanggung oleh orang tua, kami baru sadar betapa besarnya pengeluaran yang harus dirogoh. Baru tengah bulan, kamipun defisit secara finansial. Jujur, belum pernah sebokek ini di tanggal belasan. Kami duduk bareng dan diskusi. Hingga akhirnya, kami menemukan beberapa kesalahan yang harusnya bisa dihindari.

Keputusanku Untuk Tak Menyekolahkan Anak Terlalu Dini

Keputusanku Untuk Tak Menyekolahkan Anak Terlalu Dini

Awalnya, sebagai Ibu "milenial", aku sangat tertarik untuk mengobservasi dan mengeksplorasi tumbuh kembang anak yang disekolahkan dini oleh orang tuanya. Jujur aku penasaran atas dampaknya. Katanya, bersekolah dapat meningkatkan kemampuan akademik dan sosialisasi anak dengan lingkungannya. Tapi setelah mendalaminya, apa sebenarnya manfaat menyekolahkan anak di usia dini? Tepatkah? Haruskah? Lalu kapan usia yang tepat untuk menyekolahkan anak?